antyo.rentjoko.net

Jump to content

Additional information

About antyo.rentjoko.net

kumpulan tulisan antyo

Subscribe to this

Categories

Archives

Tags

adasaja blog 69 kata! blog basa jawa bungkus ceramah dan sejenisnya e-book gratis Internet jejaring sosial kamera ponsel kamera saku kamera saku abal-abal label macam-macam media sosial memo blogombal menggurui naskah digital nyontek teknologi digital tulisan panjang

Bookmarks


Archive for June, 2008


Peringkat Blog Saya Turun, Gimana Dong?

Jun 2008
30

peringkat blogBingung saya untuk menjawab pertanyaan macam itu. Saya bukan ahli pemeringkatan. Lebih penting lagi: saya tak begitu paham — dan belum mau belajar jauh — sejumlah alat untuk mengukur popularitas blog. Dalam urusan tertentu, ngeblog saya ya rada naif. Yang penting ngeblog. Titik.

Lebih payah dan memalukan lagi, kadang saya ogah menengok blog-blog saya. Begitu parahnya pengabaian oleh saya sendiri sehingga tahu-tahu sampahnya menggunung. Mang Memet Akismet kebobolan.

Untunglah belakangan ini saya mau belajar. Maka ada kemajuan dalam menjawab. Misalnya dengan menanya balik, “Anda ngeblog buat apa?”

Kalau ngeblog untuk kepentingan personal dan suka-suka, abaikan semua peringkat popularitas. Lebih penting peringkat kelegaan dalam diri.

Kalau ngeblog untuk pekerjaan — misalnya atas nama kantor — ya mau tidak mau, suka tidak suka, harus mau belajar soal peringkat dan cara mencapai popularitas. Namanya juga pekerjaan, disuruh pula. Apa boleh bikin.

Kalau ngeblog untuk personal sekaligus bisnis? Jawaban saya oleh beberapa orang dianggap aneh. Ya yang penting secara personal puas, secara bisnis bagus sehingga layak diuangkan. Persoalannya, kata sebagian orang, dua hal itu sulit digabungkan.

Saya juga entah sepertiga entah setengah mengamini. Lebih tepat membebek. Tampaknya sulit digabungkan. Kemudian saya bilang, kalau ngeblognya sesuka hati — tak hanya topik, bahasa, tetapi juga keajekan update, bahkan nama pun gonta-ganti — bagaimana bisa menjangkau khalayak luas, menciptakan kecanduan, dan membangun brand buat diri sendiri?

Nah, kelihatan kan kalau jawaban saya mulai tidak fokus, bahkan melenceng (atau malah tak konsisten)? Maaf. Memang begitulah adanya.

Lantas ada satu-dua orang membisiki, bahwa yang namanya ngeblog itu, kalau masih sebatas yang saya lakukan, adalah cara lama. Cuma mengutamakan updating sesuai niat, dengan menulis secara pribadi tapi ditujukan kepada khalayak dengan harapan ada yang membaca.

Cara baru, kata mereka, adalah menggunakan mesin blog untuk apa saja, yang penting ada konten (entah siapa yang bikin), plus pengayaan isi melalui trik ini dan itu supaya menggaet pengunjung (tersesat) dan ujung-ujungnya adalah peringkat. Secara rutin pencapaian blog dilihat dan dievaluasi.

Jawaban ini, dengan sejumlah contoh, tampaknya lebih terfokus dan sekaligus membuat saya terkesima. Tapi orang lain bilang, ini bukan cara baru. Hanya cara lama yang belum usang. Ada tempat untuk mempelajarinya.

Lantas, gimana dong baiknya supaya peringkat terjaga bahkan terus menanjak? Waduh, saya tidak punya buku Petunjuk Menjadi Kampiun karangan si Manyun.

Jawaban saya dari dulu dianggap menjengkelkan. Setiap blog punya penggemar sendiri. Bahkan setiap topik atau kategori juga punya penggemar sendiri. Taruh kata cuma ada lima pembaca setia, itu pun baik adanya.

Kalau kurang dari lima bahkan tidak ada? Tak soal asal si blogger puas dan bahagia.

© Ilustrasi: www.cepro.com


Menuju Masyarakat Madani Rasa Itali(a)

Jun 2008
22

Inilah kata KBBI tentang makaroni: “ma·ka·ro·ni (n) : makanan dasar yg dibuat dr tepung terigu, berbentuk buluh pita, yg diolah menjadi berbagai macam masakan”.

makaroni madani ciamis

Apakah di negeri asalnya, yakni Italia, macaroni juga dikemas sebagai cemilan kering awetan? Saya tak tahu. Barangkali itu juga tak penting.

Lebih penting bagi kita adalah kreativitas mengolah penganan yang semoga saja sehat, tidak membuat tenggorokan panas.

Jauh lebih penting lagi, dengan makaroni kita memperjuangkan terwujudnya masyarakat madani. Itulah cita-cita yang menyadarkan kita setiap kali melihat Matahari terbit, dan setiap kali kita menatap Bulan.

makaroni madani ciamis


Kendil Bu Tjitro dan Bahasa Sarjana

Jun 2008
22

gudeg kendil bu tjitro

Kendil (Jawa: kendhil) adalah periuk tembikar. Cocok dan enak untuk menampung olahan masakan tradisional. Maka Bu Tjitro Yogya (dan Jakarta) pun mempertahankan kemasan gudeg jualannya dalam kendil.

gudeg kendil bu tjitro

Yang menarik dari kemasan luar, yakni karton, adalah penjelasan tentang produk. Soal ejaan (terutama “di”), abaikan saja. Bukankah “tak sedikit” sarjana yang bingung membedakan “di” sebagai awalan dan kata depan. Jangan-jangan bahasa dalam skripsi mereka pun kacau. Bukan tidak mungkin bahasa sang dosen pembimbing pun kacau!  :)

gudeg kendil bu tjitro


Si Kuncir yang Kemriuk dan Berminyak

Jun 2008
22

kerupuk anta kuncir

Pilihan nama krupuk ini unik juga: Anta Kuncir. Mungkin pemiliknya bernama Anta, berkuncir pula. Jika ya, artinya dia funky juga.

Kuncir baru muncul (lagi) tahun 80-an setelah rambut gondrong tergerai sempat rehat, digantikan oleh potongan rapi pada akhir 70-an (biasanya ditambahi kumis).

kerupuk anta kuncir

Seterusnya rambut dikuncir dianggap biasa, mulai bisa diterima. Bahkan salah satu bos di Grup Salim, yakni sang menantu yang bernama Fransiscus Welirang, sering tampil berkuncir.

Lantas apa hubungan Bogasari, Welirang, dan kerupuk? Tidak perlu dihubung-hubungkan. Saya asal menulis saja. :D

kerupuk anta kuncir


Bagelen dari Tanah Pasundan

Jun 2008
22

Saya tak tahu kenapa roti kering yang manis itu disebut “roti bagelen”. Setahu saya Bagelen itu nama wilayah di Purworejo, bagian dari kantung besar Dulangmas (Kedu, Magelang, Banyumas), gudang beras bagi kerajaan Maratam Islam.

Dulu, yang terkenal adalah roti bagelen cap Prijaji dengan ikon pria jawa memakai kupluk jawa.

roti bagelen

Nah yang ini adalah Bagelen dari Pasundan. Terbikin sejak 1885 di Garut oleh Khoe Pek Goan. Kemasan masa kini tidak berkertas roti melainkan plastik.

Tapi benarkah bahwa apapun mereknya, roti kering sejenis bagelen itu terbikin daripada roti yang sudah basi? ;)

roti bagelen


Upet bin Tunam si Tali Kesegaran

Jun 2008
22

Slogan teh cap Upet ini sederhana tapi penuh percaya diri: “Lambang Kesegaran”. Segar tak harus dekat dengan dingin, basah, apalagi anyes. Bukankah ada ungkapan “fresh from the oven“? Roti atau kue anyar jelas hangat bahkan panas.

teh cap upet

Lantas upet itu apa? Tak ada hubungannya dengan upeti. Upet adalah tunam. Lah, apa pula? Upet atau tunam adalah tali api, biasanya pilinan sabut kelapa. Upet berfungsi sebagai sumbu tanpa kompor. Misalnya untuk menyulut rokok dan… meriam.

Mungkin karena dulu itu korek api masih langka maka orang membutuhkan tali yang akan menyala terus sampai habis. Dari mana api untuk menyalakan sebatang atau seutas upet? Boleh jadi dari bara pada ujung upet lain. :D

Pengibar merek upet yang terkenal adalah rokok bikinan Malang, yaitu Oepet. Pada tahun 70-an PR Oepet adalah satu dari sedikit perusahaan yang punya band (rock). Ian Antono dan JSOP mungkin punya cerita yang lebih komplet. :)

teh cap upet


Posting Basi? Biarin Aja!

Jun 2008
13

basbang kemalumon awardJangan takut posting Anda dibilang basi. Jika Anda memang menikmati penulisan posting itu, blogkan saja.

Bagaimana jika pembaca kuciwa? Itu risiko. Bagaimana kalau pembaca mentertawakan? Bersyukurlah, Anda masih bisa membuat orang lain girang. Anda telah beramal. :D

Jika Anda ingin membuat resensi kaset atau CD Bintang Lima-nya Dewa sekarang ini, lakukan saja. Blog tak harus memuat segala hal yang baru. Bisa juga sih Anda berkilah bahwa topiknya lama tapi isinya beda. Karena beda maka anggap saja itu baru. :)

Ada saja terdengar, seseorang batal mengeposkan tulisan di blognya karena merasa sudah basi. Ukuran basi: bloggers lain sudah lebih dulu meramaikannya. Posting belakangan dianggap cuma membebek, seperti kelasi ketinggalan kapal. Kalau bebek pakai baju kelasi, namanya Donal(d).

Hasilnya, tulisan Anda — oh bukan, maksud saya dia — tempo hari tentang Ali Sadikin batal termuat karena baru ditulis lima hari setelah Almarhum dikebumikan.

Bagaimana dengan posting yang berhubungan dengan perkembangan kasus? Misalnya mau menulis tentang musisi tenar yang tersandung narkoba (dakwaan: bawa ganja dalam taksi). Eh ketika ditulis dia sudah bebas, berkumpul bersama keluarga tercinta, dan menjalani kaul berhenti merokok.

Andai kata ada pembaca yang mengingatkan melalui komentar (”Kalo mau posting baca berita dulu dong!”), anggap saja itu koreksi. Justru di situlah kemuliaan blog. Pembaca tak hanya berhak bersuara dan mengoreksi melainkan juga memperkaya posting Anda.

Jika blog boleh menuliskan segala hal yang terkini, dan dibenarkan pula menuliskan hal yang sudah jauh terlewati, bolehkan blog juga menulis hal yang akan terjadi?

Kalau Anda bisa, dan mau, kenapa tidak? Mau disebut ramalan jitu atau posting ngaco menyesatkan, itu terserah pembaca. Yang penting Anda siap bertanggung jawab. Artinya Anda (minimal) bersedia untuk menjawab.

Misalnya Anda kadung memastikan bahwa penulis posting ini akan meninggal Sabtu 14 Juni besok. Ternyata meleset. Bisa saja Anda menjawab,”Waktu itu saya yakin, tapi saya kan bukan Pemilik Kehidupan.”

Baiklah, abaikan saja ilustrasi tak bermutu itu. Yang penting ini: lebih baik ngeblog basi — atau sok futuristik — daripada ngeblog serbaterkini tetapi cuma copy-and-paste, atau malah menyuruh mesin menyedoti konten dari web lain. ;)


Aktivitas Online dan Kehidupan Pribadi

Jun 2008
02

gunjing gosip tak bermutu“Kenapa dia nggak ng-update blognya lagi?” tanya seseorang tentang orang lain kepada saya.

“Mungkin sibuk, atau males, atau nggak sempat, atau memang lagi puasa online,” kata saya.

“Puasa apaan? Tapi dia masih datengin blog orang, ninggalin komentar. Y!M dan Gtalk-nya itu kalo ditinggalin pesan, masih nyahut.”

“Lha mana saya tahu? Tanya dia dong…”

Hari berganti. Pekan demi pekan berlalu. Kemudian bulan baru pun menyapa. Orang yang lain, tentang orang yang lainnya lagi, bertanya serupa kepada saya.

Jawaban saya lebih ringkas, “Mungkin sibuk. Atau lagi suka menyendiri.”

“Sibuk apaan? Kemarin aku ngeliat dia lagi ngopi sendirian, pake laptop, di sono noh. Lagi nunggu siapa gitu ‘kali yak? Kapan itu si Anu juga mergoki dia lagi milih sepatu di Anu. Sibuk? Dia kan penganggur?”

Tentu gunjing bergonjang-ganjing ini tidak layak diteruskan.

Hanya satu moral ceritanya: blogging dengan nama sendiri maupun alias, tapi sosok asli si blogger sudah dikenal oleh blogger lain, pada akhirnya akan membatasi privasi.

Bukan salah blogging-nya. Bukan kerna kutukan messenger. Tapi inilah konsekuensi dari(pada) adab gaul. Jalur maya-tapi-nyata dan aktivitas online hanya bagian dari kehidupan sosial itu.

Siapkah Anda menerima gangguan privasi itu? Seberapakah batasnya?

Jawaban paling mulia: “Emang gue pikirin?” Tapi sampai kapan? Jangan-jangan ada catatan kaki: “Iyah, sebel juga sih.”

“Mas, kenapa ya si itu suka nulis-nulis yang flirty gitu, seductive gitulah, pake ngaku fiksi segala. Orangnya emang gitu ya? Atau lagi ada masalah sama hubby? Doyan brondong ya dia? Atau biar diperhatikan para lelaki dan bikin penasaran para wanita?”

“Mana saya tahu, Bu? Kenapa juga itu Ibu baca lalu Ibu pikirkan?”

© Ilustrasi: unknown


Paging

Credits

Template designed by praegnanz.de.