antyo.rentjoko.net

Jump to content

Additional information

About antyo.rentjoko.net

kumpulan tulisan antyo

Subscribe to this

Categories

Archives

Tags

adasaja blog 69 kata! blog basa jawa bungkus ceramah dan sejenisnya e-book gratis Internet jejaring sosial kamera ponsel kamera saku kamera saku abal-abal label macam-macam media sosial memo blogombal menggurui naskah digital nyontek teknologi digital tulisan panjang

Bookmarks


Archive for April, 2008


Mestinya Blog bukan Ladang Ranjau

Apr 2008
28

ranjau dalam blogApa? Ranjau? Memangnya kita di kawasan perang atau bekas perang?

Apa boleh buat, ngeblog sebagai bagian dari aktivitas online memang rawan masalah. Dari yang urusannya teks, gambar, sampai dengaran dan gambar hidup.

Untuk yang teks, ya tahulah yang namanya demam kopas atawa copy-and-paste.

Untuk gambar, ehm, sebagian (besar) dari kita pernah atau masih melakukannya. Ambil sebuah gambar dari sebuah web lantas kita pasang.

Memang kadang ada penyesuaian, dari sekadar resizing (supaya ngepas di blog kita) sampai editing tingkat lanjut (gambar kita olah dan gabung dengan gambar lain).

Untuk musik, hehehe, dengan bahagia kadang kita memasang versi mp3 dari lagu musisi asing maupun domestik. Sumber asli sebelum jadi mp3 itu bisa CD audio, bisa juga rekaman langsung (bootleg).

Adapun video yang kita YouTube-kan itu, bisa berupa hasil pemotongan dari VCD (bajakan) dan tangkapan tayangan TV, bisa juga hasil comotan dari syuting pribadi.

Seperti halnya foto, ada sisi hukum yang kadang bisa “dimainkan” dalam tayangan video. Misalnya apakah penayangan wajah orang lain sudah seizin pemilik wajah (dan hidung).

Banyak contoh. Kalau dijembreng akan melelahkan. Padahal itu baru dari satu sisi, yakni si blogger yang dengan medianya memanfaatkan karya orang lain.

Di sisi lain ada juga media non-internet, misalnya majalah dan buku, yang main embat teks maupun foto karya blogger, dan tanpa izin, bahkan mungkin mendapatkan manfaat ekonomis.

Jadi, dari sisi kepentingan ngeblog, setiap blogger harus punya pengacara? Boleh, tapi walah, kayaknya malah ruwet.

Atau ada lembaga bantuan hukum buat blogger? Ini sih terserah bloggers — dan terserah lawyers.

Ada baiknya kita duduk bersama, merembuk soal ini dengan kepala dingin, hati tak dagdigdug, dan tentu boleh dengan sedikit guyon, yang penting ada hasil yang layak rujuk.

Itu tadi baru dari segi hak cipta, belum ditambahi soal penghinaan, fitnah, dan pemburukan nama jelek.

dagdigdug berencana menggelar forum untuk itu, dengan melibatkan ahli hukum, khususnya HAKI (hak atas karya intelektual). Akan lebih nikmat jika melibatkan sarjana hukum yang blogger — atau sebaliknya: blogger yang sarjana hukum (tapi belum ditemukan apa perbedaannya, jadi saat ini tak usah dibahas).

Kapan waktunya, dan di mana, tunggu kabar. Maunya dagdigdug sih melibatkan sejumlah komunitas blog. Ini sesuai kredo dagdigdug: apa pun (sub)domainnya, dan di mana pun hostingnya, setiap blogger adalah saudara.

Nah, Saudara dan Saudari bisa kasih masukan mulai sekarang.

© Ilustrasi: ddasonline.com


Workshop Pertama dagdigdug (Sehari Setelah Peluncuran)

Apr 2008
15

mesin tik | workshop ngeblogSiang ini, di sebuah garage company di Gandaria, Jakarta Selatan, datanglah seorang ibu berjilbab. Usianya sekitar 50 tahun. “Saya ingin belajar ngeblog,” katanya kepada seorang awak kantor.

Ibu itu khusus datang ke rumah kecil dagdigdug untuk belajar ngeblog. Bagi saya dan teman-teman, itu sebuah keseriusan yang harus dihormati.

Dia manfaatkan waktu rehat makan siang untuk meninggalkan kantornya, sebuah departemen pemerintah di Jakarta Pusat, naik bus ke Blok M, kemudian disambung ojek, menuju ke Langsat.

“Saya ingin belajar ngeblog di dagdigdug. Apakah harus membayar untuk ngeblog?” tanyanya kepada saya.

Maka di sebuah meja kecil, sebuah pemanduan singkat pun berlangsung. Laptop saya jadi kelas.

Grothal-grathul, kata orang Jawa. Sama seperti saya dan sebagian dari Anda: awal memakai komputer dan layanan online anyar kudu belajar. Richard Stallman, sang peretas yang juga blogger itu, dulunya pun saya yakin sempat grothal-grathul saat kenal komputer. Hanya saja dia mulai lebih dini. :D

Tapi ibu itu beda. Di kantor dia sudah terbiasa pakai internet, punya akun di Yahoo!. Dia tahu dagdigdug dari blog favoritnya, yang dikomandani oleh Nukman Luthfie, yaitu Virtual. Dari sanalah selancar berlanjut ke ojek.

Nah untuk ngeblog, dia seperti saya dulu. Belajar, mencoba, dan akhirnya lancar.

Singkat kata jadilah blog dadakan yang secara paralel juga disertai pembukan akun e-mail di sebuah layanan berbasis web. Setiap info pengingat, termasuk nama pengguna dan sandi, dia salin ke dalam selembar kertas terlipat empat.

“Akhirnya jadi juga,” katanya. Ada kelegaan di wajahnya.

Dia lanjutkan, “Akhirnya anak saya punya blog. Ini memang untuk dia. Saya ingin dia terbiasa menulis untuk mengeluarkan pendapat…”

Di rumahnya, ibu itu belum ada komputer dan internet. Tapi putra keduanya, siswa kelas dua SMA, kadang ke warnet.

Selamat datang di dagdigdug, Bu. Selamat datang, Dik. Workshop selanjutnya di beberapa kota, secara berkelompok, akan kami umumkan.

© Sumber ilustrasi: entah


Ngeblog, Ngebrik, dan Nginterkom

Apr 2008
14

pesawat radio CBKawan saya bilang, ngeblog itu nggak beda dengan ngebrik dan nginterkom. Nggak beda dalam arti menyangkut pilihan berkomunikasi dan hak untuk menggunakan saluran.

Kebetulan dia itu “pengebrik” (breaker, hehe). Kebetulan juga dia itu konsisten ogah ngeblog. Juga kebetulan dia itu akademisi yang paham jagat media. Pun kebetulan dia itu tenar tapi kurang popular bagi sebagian bloggers.

Jadi saya ituh, sebagai pembela kebetulan, mau bercerita tentang rentetan kebetulan? Tidak.

Bukan kebetulan kalau saya menghargai pendapatnya. Saya pun menghargai pilihannya untuk tidak ngeblog. Dia pun mungkin (semoga) menghargai pilihan saya untuk tidak ngebrik — sekaligus memahami ketidakpahaman saya soal radio (dan) komunikasi.

Tentu pendapat saya berbeda. Ngeblog itu tak hanya berbeda dari ngebrik dan nginterkom, melainkan lebih kaya dari itu.

Oh ya, tentang ngebrik, sebagian dari kita rasanya tahu. Setidaknya kita pernah mendengar. Lagi pula stiker dan papan nama call sign Orari kan masih sering terlihat.

Kalau interkom? Ya, seperti interkom yang kita kenal. Bedanya, dalam cerita ini, interkom yang saya maksud bukanlah alat komunikasi yeng menyatu dengan bel rumah maupun jaringan telepon internal.

Interkom berkabel itu, pada awal sampai pertengahan 80-an, sempat menjadi “tren sesaat” di kompleks perumahan dan perkampungan. Juluran kabelnya melintasi pepohonan, tiang listrik, tiang telepon, dan mungkin tiang jemuran dan bahkan tiang penggantung sangkar perkutut.

Saya tak tahu apakah demam interkom itu, dulu, adalah cara yang merakyat untuk menyusul radio CB yang sempat mendemam.

Jika Orari sampai kini berkesan serius maka radio CB, pada mulanya, lebih berkesan untuk kebutuhan gaul kelas menengah, sehingga akhirnya ditata melalui organisasi.

Begitu ngetrennya radio CB saat itu sehingga pada 1984 promo krim rambut Brisk (atau Brylcreem ya?) menyediakan hadiah rig. Kalau sekarang hadiahnya pasti ponsel atau data card atau modem merangkap router.

Lantas kenapa saya menganggap blog lebih kaya?

Pertama: tertulis (plus suara, gambar, video) dan terarsipkan.

Kedua: karena terarsipkan (termasuk komentar untuk setiap posting) maka mudah dirujuk, baik untuk kepentingan akademis maupun hahahihi (atau gabungan keduanya).

Ketiga: dari blognya sendiri seorang blogger bisa belajar melalui evaluasi diri, sejak cakupan topik, gaya penulisan, sampai kualitas tulisan — dan tentu komentar pembaca.

Percakapan dalam radio komunikasi dan interkom juga bisa diarsipkan. Tapi harus melalui perekaman auditif, untuk kemudian disalin ke dalam teks, agar layak rujuk. Uh, merepotkan. Lebih ngerepotin kalau ditambahi analisis keaslian suara dengan bukti hasil kajian instrumental atau apalah yang rumit itu.

Persamaan ngeblog dengan ngebrik dan nginterkom, antara lain, ya pada “kopi darat” itu. Bahkan istilah “kopdar” itu dicomot dari kebiasaan para pelaku komunikasi radio yang sekali (pun) di udara tetap ingin bersua di darat juga.

Dengan teman saya itu pun saya esok, entah kapan, akan kopdar, supaya tidak hanya ber-SMS-an saja. Ngomongin blog, ya? Kayaknya enggak. :D

© Gambar asli: RadioShop


Paging

Credits

Template designed by praegnanz.de.