Antara keluhan dan anjuran bisa bersua, padahal dari orang yang berbeda.
Bunyi keluhan, “Anda terlalu cepat meng-update. Saya belum baca dua-tiga posts terbaru sudah muncul yang berikutnya.”
Adapun anjuran berbunyi, “Jangan hiperaktif. Cobalah untuk memahami kebutuhan dan kebiasaan pembaca. Buat apa Anda menulis kalau nggak dapet tanggapan karena posting Anda terlalu banyak dan sering?”
Mungkin sebagian bloggers pernah menerima kedua hal itu. Keluhan dan anjuran.
Keluhan itu, selayaknya pengaduan konsumen, haruslah dihargai dengan setulus hormat.
Anjuran itu, sebagai sebuah niat mulia dari orang lain, patutlah diperhatikan.
Terus bagaimana sebaiknya?
Ada banyak cara untuk menyalahkan pihak lain supaya kita merasa selalu benar sehingga nyaman.
Misalnya menyalahkan pengunjung kenapa tak langsung datang setelah kita men-update pada pukul tiga pagi, padahal 30 menit kemudian kita sudah mengeposkan tulisan baru. Dan sejam lagi sudah menyusul tulisan berikutnya.
Tentu saya hanya bercanda. Keterlaluan jika kita menyalahkan pembaca. Sudah mau datang masih dianggap keliru. Tega nian. Kurang tahu budi.
Oh, kalau begitu kita ngeblog pakai strategi?
Boleh dan silakan. Misalnya mengatur waktu pengeposan. Juga memilih tema visual yang tepat supaya setidaknya lima tulisan terakhir (judul dan paragraf awal) selalu terpampang. Bukan memilih desain yang hanya menampilkan satu-dua tulisan terakhir, begitulah.
Dengan begitu, diharapkan, pembaca tak merasa tertinggal seabad. Maksud saya misalkan mereka peduli tanggal pengeposan.
Bagaimana jika kita suka yang spontan, tak peduli waktu maupun jarak antaredisi tulisan?
Oh, itu juga boleh. Jika memilih pendekatan ini, maka Anda termasuk orang yang tak mau menahan ide berlama-lama. Pokoknya selagi sempat dan ingin yang langsung diposkan. Yang penting lega.
Mana yang lebih bagus, Andalah yang lebih paham. Tolok ukurnya adalah kenyamanan hati.
© ilustrasi (mungkin): jimenapulse.wordpress.com

Jawaban untuk judul itu adalah: terserah, sesuka Anda. Punya (atau hanya punya) satu blog silakan. Mau punya dua, tiga, bahkan belasan, ya silakan karena tak ada hukum yang melarang.
Saya menulis ini karena ada yang bertanya perlu tidaknya punya lebih dari satu blog. Setelah itu pertanyaannya adalah apakah setiap blog harus punya perbedaan.
Jawaban saya selalu gampang. Perlu atau tak perlu, itu bergantung pada setiap pribadi. Harus atau tak harus ada perbedaan dari setiap blog, itu soal selera dan kebutuhan.
Disebut perlu kalau satu blog dirasakan belum menampung semua hasrat. Ibarat menggunakan buku tulis ternyata pemiliknya masih membutuhkan buku tulis yang lain. Misalnya buku pertama untuk daftar obat batuk, buku kedua berisi puisi.
Dibilang harus ada perbedaan di antara beberapa buku tulis kalau pemiliknya memang merasakan kebutuhan itu. Kalau tidak ada perbedaan? Sama-sama berisi obat batuk dan puisi? Tak masalah. Isinya persis plek juga tiada yang melarang.
Ngeblog itu soal niat dan keasyikan. Dilakukan hanya jika kita butuh dan bisa menikmatinya. Kalau bosan, atau tak sempat, ya tinggalkan saja.
Lain halnya jika Anda sedang dipenjara dan satu-satunya syarat memperoleh korting hukuman adalah ngeblog saban hari. Untuk kasus ini, nikmat atau menderita, bahagia atau azab, ya kudu ngeblog sebanyak dan sesering mungkin, apa pun isinya — kecuali meledek sipir dan kepala rumah bui.
Jadi mau punya satu blog, mau banyak blog, mau ngeblog saban hari, mau ngeblog sebulan sekali, itu suka-suka kita.
Pasal pertama dan utama ngeblog adalah menuruti kata hati. Lalu pasal selanjutnya? Belum saya pikirkan. Maaf.
Oh ada ralat. Malah barusan ketemu. Pasal penyusul setelah hati adalah pikir. Bukankah menulis juga melibatkan pikiran?
© gambar asli sebelum olahan: EvoMask