antyo.rentjoko.net

Jump to content

Additional information

About antyo.rentjoko.net

kumpulan tulisan antyo

Subscribe to this

Categories

Archives

Tags

adasaja blog 69 kata! blog basa jawa bungkus ceramah dan sejenisnya e-book gratis Internet jejaring sosial kamera ponsel kamera saku kamera saku abal-abal label macam-macam media sosial memo blogombal menggurui naskah digital nyontek teknologi digital tulisan panjang

Bookmarks


Archive for February, 2008


Apa Saja yang Bisa Difoto?

Feb 2008
25

Itu tadi pertanyaan gampang. Menjawabnya juga gampang asalkan yang menjawab itu Galih Satria, Paman Patih Blontank, dan Fahmi. Mereka senang memotret, dan telaten mengeksplorasi kameranya, sehingga tahu keterbatasan dan kelebihan si alat.

Si Galih itu, bahkan dengan kamera saku (Canon PowerShot A400), selalu menghasilkan foto bagus. Tentu untuk digital imaging kita juga layak berguru kepadanya.

Kembali kepada judul yang bertanya, maka saya menjawab, “Apa saja.”

Hasil? Tentu estede, cuma gitu-gitu. Saya tidak minder, tapi juga tak bangga. Mengadaptasi stiker ojek: biar jelek punya sendiri.

Gambar-gambar ini adalah hasil jepretan saya selama jalan kaki, dari gerbang sebuah perumahan di Bekasi sampai rumah tujuan (yang isinya kemarin saya potreti), sepanjang 500-an meter.

Saya menggunakan kamera saku biasa, Casio Exilim Z850. Kelebihan kamera ini adalah relatif tipis (sekitar 2,3 cm).

Kekurangan Casio bila dibandingkan Canon dan Nikon saku? Mudah silau oleh cahaya terang (sinar dan warna putih) sehingga kedalaman akan dia pangkas menjadi cenderung putih rata.

Sejauh ini saya puas, karena saya mengamini Galih, “Kita tidak bisa mendapatkan semua keinginan kita agar bisa mensyukuri apa yang telah kita dapat…”

Nah, masing-masing foto-foto ini bisa dikembangkan menjadi satu posting! Bisa juga dipaket ke dalam satu tulisan dengan isi “500 meter jalan kaki pada suatu sore”. Atau bisa juga dengan tajuk yang belagu: “Sekali Jalan Mendapatkan Delapan Tulisan”.

Lihat hasilnya di blog lain dengan mengeklik foto. Salah besar jika Anda bilang tulisan-tulisan itu bagus. Banyak kekurangannya. Misalnya? Tiada keterangan tempat yang jelas dalam setiap tulisan. Tak apa, ini bukan koran. :D

dede yusuf ingin jadi wagub jabar dilarang ngebut dalam kompleks

engkoh warung minta difoto anak-anak selalu bermain tak kenal waktu

akan dijual, belum dijual mobil salesman lux

teras di samping rumah belajar meniti jembatan

Jadi, hanya sekali jalan, dengan mata yang tak perlu jelalatan, sebetulnya Anda selalu bisa mendapatkan bahan untuk blog. Hanya sekali jalan, tanpa rencana untuk ngeblog pula. Semata menuruti impuls.

Oh, maaf. Saya tadi berdusta. Ide untuk memotret selagi jalan kaki ini memang saya siapkan untuk blog ini. :P

Bonus (ngembat dari Galih, tanpa izin):
+ Reviu kamera saku (tenang, harga sudah pada turun)
+ Membuat foto liburan


Bikin Stok Foto Sekadarnya dengan Ponsel

Feb 2008
24

memotret dengan ponsel

Inilah kemanjaan visual: sebagian orang tak puas dengan teks dan ingin melihat gambar.

Sebetulnya tak sesederhana itu, karena keseluruhan tata letak sebuah halaman blog, dengan atau tanpa gambar, tetaplah sebuah sajian visual.

Urusannya adalah mata. Artinya mencakup kenyamanan pandang. Selebihnya adalah aspek fungsional: apakah tata letak itu mempermudah orang lain mengunyah cerita Anda.

Sudahlah, tak usah berpusing dengan tiga paragraf di atas. Cuma bergenit-genit sok konseptual. Membosankan. Lebih penting ini: bagaimana membuat dan menyajikan gambar?

memotret dengan ponsel nokiaAda dua pendekatan.

Pertama: gambar sebagai ilustrasi, hanya penjelas cerita.

Kedua: gambar adalah sumber cerita, teks hanya penyerta (bisa berupa caption, bisa pula paragraf ringkas).

Apa pun pendekatannya, sebagian besar dari Anda sudah melakukan. Yaitu memotret dengan ponsel. Hanya saja tak semuanya muncul di blog. Kadang gambar-gambar itu malah segera dihapus karena kartu memori penuh.

Tadi saya pun mencoba suatu hal yang jarang saya lakukan. Apa? Memotret dengan ponsel. Tepatnya Nokia 5300. Ukuran asli hasil jepretan 1.280 x 1.024 piksel. Tanpa persiapan, tanpa mempelajari banyak opsi, langsung jepret, asal hajar.

Sasarannya adalah isi sebuah rumah. Tentu dengan seizin si pemilik rumah, karena gambar-gambar ini akan dipublikasikan.

Dipublikasikan untuk apa? Blog, dong.

memotret dengan ponsel nokiaSemuanya? Serentak? Dalam kasus ini mestinya tidak. Tadi sore, dalam cahaya sekadarnya, saya mencoba membuat stok gambar yang di kemudian hari mungkin berguna untuk ilustrasi cerita di blog.

Misalnya? Foto pemanggang roti untuk ngeblog soal pola sarapan. Foto saklar untuk menulis tentang ketergantungan kepada listrik. Foto handel pintu kamar mandi untuk membual tentang keterbukaan.

Intinya, lebih baik memakai foto jelek karya sendiri daripada ngembat karya orang semaunya. ;)

Gambar-gambar yang muncul di sini hanya saya perkecil. Warna dan ketajamannya tidak saya “koreksi”. Tampilan pun utuh, tidak saya krop.

Dengan memperkecil gambar, kekasaran butiran foto juga akan diperlunak. Artinya mata pembaca agak kita hargai sedikit, begitulah. :D

Saya yakin Anda dapat melakukannya lebih baik, apalagi jika menggunakan ponsel pribadi yang sudah Anda kenali kelebihan dan kekurangannya.

Bagi saya, untuk ilustrasi di blog, gambar tak perlu besar ukuran file-nya. Kenapa? Agar lebih cepat muncul. Juga agar menghemat kuota di blog hosting. :D

Lebih dari itu, gambar yang kelewat besar bisa merusak tata letak. Misalnya menutupi sidebar. Nah, adanya thumbnail akan mempercepat penampakan halaman dan tak mengacaukan tata letak.

Semuanya mudah. Anda bisa, bahkan sejak kemarin.

Bagus atau tak bagus foto kita itu urusan fotografer, karena mereka mencari nafkah dari sana. Urusan kita adalah membuat dan memasang gambar dengan riang (dan pede) untuk blog.


Comot-mencomot Gambar

Feb 2008
18

che guevara by alberto kordaSaya tahu bahwa Anda orang baik lagi budiman. Foto di blog dikopi orang, Anda bilang, “Silakan saja.” Gambar kreasi Anda diambil orang, Anda katakan, “Syukurlah kalau sudi.” Bahkan jika barang ambilan itu mendatangkan uang bagi orang lain, dengan enteng Anda nyatakan, “Saya ikut senang, bisa kasih rezeki ke orang lain.”

Itu mulia. Terpuji. Kalau Anda masih lajang, tetangga di RT sebelah layak mencomot Anda sebagai menantu — dengan catatan: kalau anak tetangga mau (dan Anda tak malu).

Beres, kan? Nanti dulu. Akan menjadi masalah jika Anda menganggap orang lain sama baik hatinya dengan Anda.

Jika orang lain berkebalikan dari Anda tak berarti mereka itu culas, licik, kikir, loba dan tamak. Mereka punya hak untuk melindungi karyanya.

Maka jalan paling aman, jika memungkinkan, mintalah permisi untuk mengambil gambar orang lain untuk keperluan blog Anda.

Jika meminta permisi tak memungkinkan, antara lain karena tak ada alamat e-mail maupun kotak komentar, apalagi nomor ponsel, cantumkanlah nama web atau blognya sebagai sumber.

Lha kalau ternyata dia mengambil dari web orang lain yang tak Anda ketahui?

Apa boleh bikin, tahi kambing mungkin saja asin, anggap saja itu masalah dia. Yang penting Anda menempuh jalur aman.

Bagaimana kalau gambar itu tak jelas siapa pemilik hak ciptanya padahal beredar luas di internet, misalnya foto produk ala brosur atau foto bintang film?

Ya ambil saja, dengan catatan Anda yakin bahwa pemiliknya memang belum diketahui sampai kemudian muncul klaim. Artinya Anda sudah bersiap mencopot gambar itu kalau didesak, bahkan Anda sanggup meminta maaf.

Bagaimana dengan saya? Sementara ini untuk sumber yang tak diketahui, kalau ingat akan saya sebut dalam kreditasi sebagai unknown dan sebangsanya. Kalau pakai kreditasi “istimewa” kok malah membingungkan. Siapa dan apanya yang istimewa?

Dulu, jujur saja, saya malah main embat dengan keyakinan pembenar (yang bisa saja salah): “Kan nggak buat nyari duit.” Saya pun pernah melakukan kejahatan menggunakan foto seorang pria tua, entah siapa, untuk identitas lama saya ketika masih beralias. Saya tak tahu siapa pemilik hak cipta foto itu. Maka izinkanlah di sini saya minta maaf kepada ahli warisnya.

Lantas? Misalkan ahli hukum HAKI dan ahli blog menganggap pendekatan dalam posting ini salah, bahkan berbahaya, maka saya harus siap mengoreksi diri.

Terus kenapa saya memakai foto Che? Versi line art dari potret ini menyebar, dianggap milik publik, dan orang cenderung mengabaikan siapa fotografernya, yaitu Alberto Korda.

Korda memang mengizinkan pemakaian foto itu untuk penyebaran perjuangan menuju keadilan sosial. Kalau untuk iklan vodka, dia gusar.

Hubungannya dengan blog? Baiklah saya paksakan saja hubungannya. Bagaimana rasanya foto diembat orang, bertanyalah kepada Fahmi. Selebihnya silakan berdiskusi dengan Paman Patih Blontank Ilat Aleman.

© Foto ilustrasi: Alberto Korda


Alias dan Terang-terangan

Feb 2008
16

traktor cantikIni soal pilihan. Mau ngeblog dengan jatidiri senyatanya atau mau pakai identitas samaran, semuanya terserah Anda.

Disebut jatidiri senyatanya kalau Anda memakai nama asli ( bahkan misalnya satu nama pun sudah cukup), dan fotonya juga asli.

Lho, bukankah gambar traktor atau wajan juga foto asli? Oh, maksud saya tampang yang asli. :)

Bagaimana dengan display name dalam blog, tetapi membiarkan foto Anda tampil, minimal di blog lain karena jebakan kamera usil? Itu bukan penyamaran. Hanya pengibaran julukan.

Intinya Anda tidak bersembunyi, bahkan membiarkan diri dikenali. Dilengkapi lokasi mukim (bukan alamat rumah), dan jenis pekerjaan, juga boleh. Nggak masalah. Tiada yang melarang.

Bagaimana dengan samaran? Itu bukan anonim. Lebih tepat sebagai sebuah alias. Namanya bisa apa saja, foto diri pun bisa diganti apa saja (misalnya traktor atau wajan tadi), dengan keterangan diri yang kabur. Bahwa di kemudian hari ternyata sosok Anda dikenali, anggap saja itu senasib dengan personel Gorillaz.

Apakah menggunakan nama samaran berarti pengecut? Nggak juga. Disebut pengecut kalau tidak mau mempertanggungjawabkan apa yang dibikin di blog.

Pendek kata, mau pakai identitas asli atau samaran, itu semata soal kenyamanan.

Termasuk dalam kenyamanan adalah keberanian menanggung risiko ringan.

Misalnya, saat menantikan obat dalam ruang tunggu apotek tiba-tiba Anda dihampiri seseorang, “Oh, kayaknya pernah lihat foto Mbak dan dengar nama Mbak, deh. Mmmm… Mbak ini si Sahaetawati Kumahasari, kan? Sakit apa? Panu? Kadas?”

Kalau pakai nama samaran, Anda bisa hahahihi dalam hati ketika dua orang dalam lift mengobrolkan Anda.

“Emang, blogger satu itu nyebelin, sok cantik, sok idol padahal dodol” kata salah satu. Anda cuma membatin, “Salah sendiri baca blog gue…”

Jika menggunakan jatidiri asli, maka Anda akan ringan menjawab alamat kirim kepada blogger lain yang ingin menghadiahi Anda.

Jika Anda telanjur nyaman, dan ingin mempertahankan sosok samaran sepanjang hayat, maka Anda akan kerepotan saat ditanya alamat kirim buku (padahal mupeng akut), dan akan kikuk kalau diajak kopdar.

Yah, sekali menyatakan diri selanjutnya adalah pembukaan diri. Satu-dua-tiga-empat-lima orang pertama bisa dipercaya. Tapi orang kesebelas, yang mendengar dari orang pertama, mungkin kelepasan bicara.

Orang ke-19, yang niatnya sekadar bercanda, akan menebarkan clues dalam komentar dan shoutbox di blog Anda — padahal tak sedikit bloggers yang berbakat detektif.

Jadi, gimana dong? Harus menyatakan diri sejak dini, bersamaan dengan Hello World! (kalau pakai WordPress)?

Nggak. Itu terserah Anda. Sesuka Anda.

© Gambar asli sumber ilustrasi: Shutterstock dan Tradebit


Strategi Ngeblog

Feb 2008
13

strategi ngeblogWalah, ngeblog kok pakai strategi. Harus, kata yang suka. Ngapain juga repot, kata yang tak suka.

Apa yang dimaksud dengan strategi? Ini hanya istilah sok keren saja, untuk mewakili sejumlah niat dan kiat agar blog lebih terlihat.

Ada yang mengutamakan pendekatan topik, judul dan isi, bahkan tags. Pokoknya harus menarik, kata yang yakin. Supaya orang datang nyamperin.

Ada yang menambahkan gambar, dengan harapan pelintas akan tergoda untuk membaca saat mereka tersesat menemukan gambar karena giringan mesin pencari dan pencatat.

Itu pun masih ada yang menganggapnya kurang, sehingga sebisanya menambahkan tautan keluar ke tulisan blog lain agar terendus.

Kurang komplet kata orang yang terbiasa dengan perencanaan. Tiga bulan ngeblog dia mempelajari statistik webnya. Kesimpulan: hanya pagi, jam makan siang, dan jam bubaran kantor blognya dibaca orang.

Maka yang dia lakukan adalah hanya memperbarui blog sebelum jam puncak pada hari kerja. Hari libur? Dia tidak updating, tetapi meluangkan waktu untuk blogwalking dan meninggalkan komentar.

Ada pula kombinasi dari semua niat dan kiat, ditambahi trik untuk mengecoh kepintaran mesin pencari. Selanjutnya adalah urusan iklan dan sejenisnya…

Apakah itu salah? Nggak. Justru bagus. Artinya dia eh mereka serius.

Berarti yang tak melakukan itu bukan blogger serius? Nggak juga. Blogger macam itu juga bagus. Menambahkan isi “post-Hello-World”, meski hanya satu kata (yang terbaca), itu berarti serius.

Mana yang lebih bagus? Keduanya bagus.

Apa ukurannya? Tidak ada. Malah untuk sementara anggap saja tak perlu.

Ralat, ya. Begini saja, dibilang ngeblog itu bagus kalau pilihan caranya mendatangkan kenyamanan bagi masing-masing blogger dan pembacanya.

Lha wong posting ditulis sendiri, bukan copy-and-paste, bukan pula oleh robot atau orang lain, kok dibilang nggak bagus.

Lantas di mana strateginya? Antara penting dan tak penting. Tahap pertama ngeblog adalah, “Pokoknya nulis.” Percayalah. :D

© Gambar asli sumber ilustrasi: chess-theory.com


Ngeblog dengan atau tanpa Gambar. Bagusan Mana?

Feb 2008
11

ilustrasi gombal kagak nyambungJawaban aman dan sekaligus tampak bijak: keduanya bagus. Tapi saya memang belum punya stok jawaban lainnya.

Mau posting pakai gambar silakan. Mau polos hanya teks ya boleh, tiada yang melarang. Misalkan tanda baca berupa spasi sudah dianggap teks, sehingga boleh dianggap sebagai sebagai posting, ya cobalah.

Bagaimana dengan saya? Beberapa kali saya meledek diri sendiri sebagai blogger yang kurang percaya kepada kekuatan kata. Terbukti saya sering memakai gambar untuk ilustrasi.

Apa? Ilustrasi? Bukannya hanya pemanis halaman web, untuk pemantas belaka? Atau cuma mau pamer, gegayaan, gagah-gagahan? Ehm, mungkin juga ya. Sudahlah jangan giring saya untuk menelanjangi diri.

Oh, kata Anda, kadang bukan hanya pemanis atau pemantas karena gambar memang diperlukan agar tak perlu membuat pemerian dalam teks. Terima kasih atas pembelaan itu.

Tapi sama saja. Pemanis atau ilustrasi, intinya saya sering tak percaya kepada kekuatan kata yang saya tulis sendiri. Anggap saja begitu.

Bahkan tak jarang, sudah teksnya panjang, ada lebih dari satu gambar pula. Huh, apa karena terlena oleh kelonggaran ruang web yang tak seketat cetak, sehingga saya kurang hirau ekonomi kata maupun ekonomi ruang? Lihat kalimat terakhir paragraf ketiga. :)

Bagi saya itu semua soal pilihan dan kenyamanan bagi masing-masing blogger. Sering dan teramat banyak saya dapati blog yang miskin gambar tapi isinya bagus dan sangat bagus. Salah satunya mungkin blog Anda.

Bagaimana kalau yang nyaman bagi kita ternyata tak nyaman bagi orang lain?

Ehm, kita memang harus berlatih kompromi, karena ngeblog memang ditujukan untuk publik.

Di mana batas komprominya saya tak tahu. Tapi biasanya pengembang web, termasuk desainer, akan mencarikan solusi untuk blogger yang suka hambur kata dan boros gambar.

Selebihnya filter ada pada masing-masing pembaca, dengan keragaman sensitivitas. Ada yang begitu melihat teks nyinyir dan berjejal gambar langsung kabur. Ada juga yang mau menyimak, karena mungin kurang kerjaan.


Melalui Blog Saya Belajar Menulis

Feb 2008
08

serdadu lempung

Hmmm… judul basa-basi, sok merendah? Sama sekali tidak. Sama sekali bukan.

Memang demikianlah yang terjadi dan berlangsung. Saya masih belajar menulis. Terus belajar.

Saya bukan penganut militerisme, tetapi jelas sangat membutuhkan militer yang diongkosi dengan pajak rakyat, supaya ada pembagian tugas yang jelas siapa yang mesti pertama-tama maju perang. Apa urusannya dengan menulis dan ngeblog?

Saya mem(p)ercayai kredo pasukan komando. Tak ada prajurit yang terlatih, yang ada hanyalah prajurit yang selalu berlatih.

Bagaimana saya belajar? Ya setiap kali posting. Saya belajar merumuskan suatu hal, belajar menata benak.

Apa yang saya pelajari? Banyak. Begitu banyak sehingga tak dapat dirinci. Tapi saya dapat meringkasnya sebagai “dari menuai butir ingatan sampai membaca tulisan bloggers lain”.

Apakah topik tulisan saya menarik? Entah.

Apakah alur tulisan saya aneh dan tidak menyamankan pembaca? Mungkin.

Apakah tulisan saya menurut ahli bahasa memenuhi kaidah? Tidak. Penggunaan “tapi” (atau “tetapi”) pada awal kalimat, dan terlebih pada awal paragraf, dianggap kurang bagus — tetapi sering saya lakukan.

Apakah ejaan saya selalu tepat? Misalkan WordPress Indonesia sudah dipasangi pemeriksa kata dan ejaan yang baik dan benar, pasti ada saja kesalahan saya. Typo dan slaha kteik adalah bumbu najis yang sering gagal saya elakkan.

Kenapa saya nekat menulis?

Kalau saya menunggu cara berbahasa dan penulisan saya sampai beres agar pede, maka saya tak kunjung mengisi blog.

Tip: Jika ingin berguru datanglah ke Ersis W. Abbas. Dia guru yang baik.

© sumber ilustrasi: Toy Soldiers Gallery


Ngeblog sebagai Terapi Demi Kewarasan

Feb 2008
07

tutup selokan | © paman tyo“Ngapain kamu ngeblog?” itu pertanyaan beberapa orang yang belum ngeblog.

Cuma tiga kata, melontarkannya mudah, tapi seringkali saya tak lancar menjawab.

“Iseng aja sih,” jelas bukan jawaban yang menyenangkan.

“Suka aja, gitu,” malah mengundang cecaran kenapa suka.

Dulu, ketika masih bekerja di pabrik kata, saya punya jawaban enteng, “Selingan aja. Habis kerjaku di depan komputer yang online. Selagi nunggu naskah masuk ya main-main aja sekalian.”

Padahal yang terjadi saya kadang tidak punya pekerjaan yang jelas. Boleh baca apa saja, boleh tidur, boleh nelepon ke sana-sini, boleh setel musik apa saja, boleh berbusana semaunya, dan hehehe… digaji. Tapi itu soal lain. Tepatnya: berkah yang lain. Seperempat menganggur tapi berstatus pegawai, dan boleh mengaku kreatif (padahal tidak).

Untunglah mereka percaya: cuma main-main. Saya pun akhirnya percaya: blog adalah main-main. Maka saya pun dulu pakai nama alias supaya main-main saya lebih mengasyikkan.

Dalam penyembunyian diri itu akhirnya saya petik sebuah kesimpulan. Ngeblog bisa mengentengkan pikiran karena bisa membuang lamunan.

Sebelum ada blog inilah yang sering terjadi: apa yang menarik bagi saya, dan ingin saya obrolkan, belum tentu menarik bagi orang sekitar. Bisa karena topiknya nggak cocok, bisa juga lantaran mood mereka yang lagi mléngsé.

Artinya masalah ada pada saya: tak menemukan saluran.

Untunglah ada blog. Maka dengan gagah tapi memalukan sering saya nyatakan bahwa blog punya fungsi terapetik untuk menjaga kewarasan.

Semacam nge-flush benak, begitulah. Terlalu banyak melamunkan soal itu-itu melulu, kata entah siapa, bisa merusak otak.

Jadi, jujur saja, niat saya ngeblog dulunya sangat egosentris. Bukan mau berbagi tapi yang penting membuang lamunan. Malah blog awal saya, lupa di mana, tak punya boks komentar dan kotak salam (shoutbox).

Entah berapa kali saya berpindah pondokan blog, dan saya akhirnya senang karena ternyata buangan lamunan saya dibaca bahkan ditanggapi orang.

Ternyata blog bukan cuma dokumentasi lamunan.


Eksibisionisme, Narsisisme, dan Rasa Blog

Feb 2008
06

blog narsis“Ngeblog itu intinya hanya buat pamer kan?” tanya kawan saya.

Maksudnya ya pamer barang, pamer tempat jajan, pamer wajah teman rupawan, pamer CD, pamer buku, pamer nonton film, pamer nonton konser, pamer setelah traveling, pamer foto bareng seleb, dan seterusnya.

“Dengan atau tanpa gambar, intinya pamer. Jelas banget itu!” ia menyimpulkan.

Bisa jadi dia benar. Dalam kesimpulan sementara saya: ada batas tipis antara berbagi dan pamer.

Repotnya, kadang kala pamer berkonotasi negatif, karena bersepupu dengan peninggian diri dan bersanak dengan haus pujian plus rindu kekaguman berbumbu iri bahkan dengki.

Lantas setipis apa pun perbedaannya, di mana batasannya? Saya tak tahu. Tak punya alat ukur. Saya hanya bisa merasa (jadi bisa saja salah) kapan saya dan orang lain sekadar pamer, kapan berbagi pengalaman.

Tentu respon setiap orang untuk setiap posting di blog akan berbeda. Yang Anda niati berbagi pengalaman di blog Anda, misalnya “jangan tertipu cewek di Las Vegas”, bagi orang tertentu cuma akan dianggap pamer. Lalu muncul komentar, “Oh, cuma mau cerita udah ke Vegas ya, Mas?”

Tak apa, itu risiko. Respon terhadap pesan seringkali di luar kendali Anda. Sebagai hiburan toh ada juga pembaca yang menanggapi, “Meskipun belon ada rizki, saya akan ati-ati kalo ke Vegas.”

Lain kali Anda bercerita soal cicipan anggur. Bisa saja dianggap pamer dan sok borju, tapi tidak untuk setiap artikel di Yohan Handoyo. Kenapa? Setiap orang tahu web Yohan adalah tempat buat berbagi rasa anggur.

Ujung-ujungnya adalah rasa. Setiap pembaca akan menimbang mana tulisan yang pamer penuh kejumawaan, mana yang sekadar berbagi. Memang sih, beda pembaca beda timbangan rasa. Apa boleh bikin.

Begitulah, ada saja wilayah-wilayah eksibisionistis dalam kehidupan kita. Setiap orang butuh perhatian (dan ingin memperhatikan orang lain), kan?

Lantas apa pula hubungan blog dengan narsisisme? Saya belum beroleh jawaban. Mungkin pemampangan foto diri, dan foto aktivitas pribadi, dianggap dekat dengan gejala mencintai diri sendiri secara berlebihan.

Selain soal rasa, jangan-jangan ini juga menyangkut kesalahkaprahan yang mulanya diniati sebagai ledekan: “Dasar narsis(is), lu!”

Biarkan saja. Sepanjang tak merugikan orang lain, lakukan yang nyaman senyaman-nyamannya untuk blog Anda.

© Gambar bingkai: swiss-banking-antiques.com | gambar model pegang apel: entah


Wartawan, Blog, dan Kekecilan Hati

Feb 2008
05

wartawan mengetik: buat berita atau blog?

Seseorang pernah bertanya, “Di sana itu (gedung redaksi), pasti wartawannya pada ngeblog ya?”

Dia bertanya karena punya pengandaian. Wartawan terbiasa menulis, bahkan menjadi jalur nafkahnya. Urusan ngeblog mestinya cincay.

Saya tak punya jawaban penyangkal maupun pendukung yang sahih punya. Saya tak punya data, misalnya, “dari 100 wartawan hanya 99 orang yang ngeblog.”

Yang saya tahu, ada wartawan yang ngeblog dan ada yang tidak — atau belum. Ah, yang ini pun semua bloggers tahu. :D

Dari wartawan yang ngeblog itu ada yang ingin enggar-enggar penggalih, lari dari rutinitas dengan isi blog yang berbeda dari bidang liputannya. Atau untuk menampung liputan, atas inisiatif sendiri, yang tak tertampung oleh rubrik-rubrik.

Ada juga wartawan yang ngeblog dengan memasukkan sebagian liputan atau artikel karya dirinya yang pernah di muat di medianya. Semacam kliping dan cabang dari versi online korannya, begitulah.

Anda pasti minta contoh. Ya, kan? Maaf saya tidak ada sedia contoh. Silakan Anda telisik sendiri siapa saja wartawan yang ngeblog dan tergolong apa isi blognya. :D

Selain ngeblog sebagai aktivitas pribadi, ada pula wartawan yang ngeblog untuk keperluan dinas. Media di luar negeri, dan kemudian di Indonesia, akhirnya juga melakukan. Saya tak tahu seberapa mereka berbahagia — atau menderita — dengan blog dinas yang cenderung terjadwal itu.

Bagi sebagian bloggers dinas, bisa jadi itu tak beda dengan mengurusi rubrik di media cetak maupun digital. Hanya saja yang di blog diharapkan (atau: boleh) lebih subyektif dan personal, pun lebih interaktif, karena pembaca boleh berkomentar dan mengoreksi.

Lho, apa bedanya dengan berita dan opini dari versi online koran, yang juga terbuka terhadap komentar dan koreksi dari pembaca secara cepat?

Lebih sial lagi, mau obyektif atau subyektif, isi blog dinas akan selalu dianggap mewakili lembaga penerbitnya, kan? Aha! Baiklah itu kita diskusikan lain kali saja.

Lebih baik saya kutip komentar seorang blogger: “Wartawan aja ada yang susah diajak ngeblog, apalagi aku yang nggak biasa nulis.”

Stttt… bagaimana kalau pendekatannya berbeda? Justru karena banyak bloggers yang bukan wartawan, dan terbukti blog mereka layak simak, maka Anda yang bukan jurnalis tak perlu berkecil hati.

Emang cuma wartawan yang bisa (dan lancar) menulis? :D

© Bahan mentah ilustrasi: www.bridgew.edu


Paging

Credits

Template designed by praegnanz.de.