Judul yang menyebalkan. Sok menggurui. Anda pasti menduga bahwa saya sudah punya stok jawaban semacam, “Mudah, asalkan…”
Uh, depannya sugestif, belakangnya bersyarat. Ya, kan?
Maka inilah jawaban saya: ya, memang sulit. Apa saja kesulitan saya?
Pertama, soal kesempatan. Tidak mungkin saya online tanpa henti, baik dengan komputer maupun gadget.
Kedua, soal mood. Bicara soal suasana hati kadang memang tak dapat ditawar. Kalau angin lagi cocok ya saya bisa bikin post lebih dari satu dalam sehari.
Ketiga, soal gagasan. Saya akui gagasan selalu ada bahkan berlebihan, tapi saya sering tersandung oleh keterbatasan waktu dan keparahan mood.
Nah, Anda sekarang pasti bilang, “Sama dong dengan saya? Gitu aja kok ditulis…”
Memang sama. Masalah kita, sebagai bloggers, ternyata sama. Tapi sungguh kurang ajar kalau saya mengimbangi, “Gitu aja kok dibaca.”
Mari ngeblog. Ayo kita tularkan kegairahan ngeblog. Makin banyak yang terinveksi terinfeksi virus ngeblog, itu makin bagus karena kita tak merasa sendirian.
Di saat malas menulis, kita bisa baca blog orang lain. Setidaknya kita sudah “ngeblog secara pasif”.
Dalam milis, teman saya itu lancar menulis. Isinya serius, argumentatif, bagus, dan ehm… lucu, kadang malah menandingi kolom di koran-koran.
Maka saya anjurkan kepadanya untuk ngeblog. Bahkan blog pun saya buatkan. Hasilnya? “Sori, susah buat ngupdate. Nulis itu sulit buatku,” katanya.
Aneh benar. Dia lancar menulis, tidak hanya dalam milis melainkan juga japri. Paparan dan pemeriannya hebat. Tetapi ketika menghadapi halaman blog dia merasa gagap. Kok bisa?
Saya hanya menduga-duga itu karena perbedaan beban. Untuk milis, itu semudah dan serileks menulis surat. Untuk blog seolah menulis artikel untuk media umum. Artinya dibaca oleh lebih banyak orang, dan terbuka terhadap sanggahan maupun polemik.
Dia hanya tertawa, tidak menyangkal namun juga tidak mengiyakan dugaan saya.
Saya selalu punya jawaban superbasi setiap kali ditanya kapan menulis buku, termasuk ketika ditanya teman yang mengurisi penerbitan. “Sudah saya siapkan naskah daftar logaritma tapi penerbit nggak berminat,” kata saya seperti kaset.
Beberapa kali saya ditanya, atau setidaknya dikasih saran, agar membukukan apa yang saya tulis di blog.
Sejujurnya saya belum berani. Kenapa?
Pertama: tulisan saya buruk, tak sebagus bloggers lain yang sudah membukukan karya, bahkan typo pun kadang saya biarkan.
Kedua: ketika halaman web dipindah ke kertas maka hyperlinks cuma menjadi catatan kaki.
Ketiga: kalau isi blog diangkut ke buku, besar kemungkinan komentar para tamu tak terangkut (apalagi kalau cuma “pertamax” dan “makan2! hehehe”).
Memang sih ada yang usil, dan barangkali membawa titipan pesan dari malaikat agar saya jujur, “Apa bukan karena harga belum cocok?”
Waduh. Bagaimana bisa bilang cocok atau tidak jika tawaran angka pun belum disodorkan? Untuk yang ini saya belum punya jawaban hipotetis. Tapi kesimpulan Anda pasti tegas: “Hayah, rindu order saja kok mbulet.” Terima kasih.
Ada juga sih suara lain, barangkali titipan malaikat juga, yang berbisik, “Kalau dari blog dipindah ke cetak, apakah itu bukan sebuah kemunduran? Dari paperless ke boros kertas?”
Tapi, hehehe, penerbitan virtual dan berkertas nyatanya berteman, kan? Banyak blog yang membahas buku, bahkan mengandung tautan ke Amazon. Lebih lucu lagi, ada buku tentang blog.
Cukup lama saya pernah ngeblog sebagai makhluk dari planet lain. Pakai nama samaran, foto diri pun ngembat dari halaman web yang saya lupa alamatnya. Untunglah tak ada (semoga tidak) gugatan dari pemilik hak cipta, baik si fotografer maupun si pemilik wajah.
Tentu, main comot itu bukan hal yang layak dicontoh. Maafkan saya.
Lantas apa yang saya dapat dari penggandaan diri menjadi manusia lain? Sejujurnya saya (seolah) merasa aman dan nyaman. Karena orang tak tahu saya maka rasanya saya lebih bebas.
Bbeberapa kali saya mengirimkan sesuatu kepada bloggers lain masih dengan penyamaran. Nama pengirim ngawur, apalagi alamatnya. Risikonya adalah jika kiriman tak sampai tujuan maka paket takkan kembali kepada saya.
Meskipun begitu lama-lama saya tak nyaman juga. IP address kantor saya toh ketahuan. Tak perlu menjadi detektif, dengan segera beberapa orang segera mengenali siapa saya.
Yang ketiban repot adalah seorang blogger sejawat tapi beda lokasi kantor. Dia sebisanya menutupi identitas saya sementara beberapa bloggers akhirnya makin tahu siapa saya. Saya yang dari dulu memang tidak penting untuk diketahui akhirnya, untuk sementara (ya saat itu) menarik untuk diketahui — setidaknya bagi beberapa orang.
Hanya itu? Tidak. Bagaimanapun saya manusia normal, butuh berkawan secara wajar. Selain karena pelacakan oleh beberapa bloggers, saya pun memperkenalkan diri kepada beberapa orang. Huh, bodoh juga. Tak berbakat jadi bandit maupun reserse.
Singkat cerita tiada guna lagi bersembunyi. Ada titik ketika saya merasa sebagai pengecut yang naif. Merasa jadi si misterius padahal orang lain sudah tahu. Ibaratnya merasa jadi zebra padahal orang lain tahu bahwa itu cuma kuda yang dicoreti. Lebih sial lagi: merasa jadi kuda beneran padahal cuma kuda lumping dari anyaman bambu.
Maka akhirnya nongollah saya dengan jatidiri senyatanya. Dan ternyata blogosfer aman-aman saja. Tak ada kegemparan atau sejenisnya karena bagi teman-teman penongolan diri saya itu tak penting. Saya saja yang khawatir — dan ge-er.
Memang norak. Tapi setelah itu saya nyaman karena menjadi diri sendiri.