Hanya orang sibuk yang bisa menikmati santai. Penganggur malah mencari kesibukan, syukur ada uangnya.
Akhir pekan adalah dunia privat, kata sebagian orang. Tapi dalam kenyataan akhir pekan adalah urusan dengan keluarga, anak. Bagi yang lajang juga urusan dengan keponakan dan keluarga besar. Ditambah urusan pertetanggaan.
Jangan mengeluh. Untuk diri sendiri waktu takkan pernah cukup. Kecuali kita jadi Tarzan di hutan. Tapi di sana harus sediakan waktu untuk warga rimba.

Bukan panduan baru tapi muncul lagi. Yah, tetap saja yang namanya duplikasi konten dari media analog ke analog itu sulit. Anda ingin mencoba menggandakan piringan hitam? Kata orang sih suara piringan hitam memang lebih tebal, jauh melebihi MP3, maksudnya kalau diputar dengan hi-fi yang genah.
© Foto: Zeit Wissen
Aktor Pong Harjatmo mencoreti kubah gedung DPR-RI kemarin. Hanya dagelan tanpa hasil, kata sebagian orang. Tapi saya tetap mencatat sejumlah pelajaran.
Pertama: ketika saluran koreksi mampet dan rakyat empet, maka yang dilakukan bisa tak terduga.
Kedua: kebugaran itu penting. Dalam usia 68, Pong masih tampak sentosa. Orang sebayanya mungkin tak kuat berdiri dan membungkuk menyemprotkan cat seperti di Langsat.
Ketiga: merek Pylox memang kuat, padahal untuk ngebom ada yang lain.
Tadi ketika melewati TV saya lihat iklan entah apa. Adegannya: seorang murid boleh pulang duluan karena bisa menjawab pertanyaan guru.
Uh, kelas menjadi penjara! Murid yang berlaku baik menurut guru boleh keluar duluan. Yang lain hanya menunggu pembebasan.
Waktu saya SMP, guru aljabar yang mengajar jam terakhir hanya memulangkan kami jika ada anak yang bisa menjawab.
Jika sekelas bodoh semua, yang harus dievaluasi bahkan dievakuasi pertama kali adalah gurunya.
Apa sih yang penting dalam sebuah acara? Kehadiran. Itu sudah merupakan peran serta.
Selebihnya adalah ngobrol bahkan disertai tawa selagi ada orang tampil di pentas. Semua acara serupa pentas musik: tak harus disimak dengan takzim.
Lalu masing-masing mengabarkan kehadiran dan perjumpaan dari ponselnya ke Twitter dan Facebook.
Tak ada yang baru. Bedanya dulu belum ada media sosial. Maka dulu ada pesohor datang ke TIM, setelah difoto wartawan dia pulang.

Pohon peneduh di Jalan Ahmad Dahlan, Jakarta Selatan, ini punya aksesori baru: bangku merangkap meja. Para sopir dan satpam bisa bersantai. Ada juga yang menaruh minuman di sana.

Begitulah yang dicitrakan oleh etalase Dolce & Gabbana di Grand Indonesia, Jakarta.
© Foto: saya
Related posts:
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

Maka sebagai orang yang tak menerima kartu undangan, tetapi sudah terdaftar di komputer penyambut tetamu, datanglah saya ke pesta di bawah jembatan penghubung pada Grand Indonesia, Jakarta, yang diblokir tiga hari itu. Malam kemarin itu, 27 Juli, Kompas Gramedia (KG, alma mater saya), meluncurkan empat majalah berlisensi asing.
Majalah itu, Anda juga tahu, adalah Fortune dan InStyle (keduanya dari Time Inc.), serta Martha Stewart Living (Martha Stewart Living OmniMedia) dan More (Meredith Corp.).
Satu majalah bisnis dan tiga majalah gaya hidup. Maka CEO KG Agung Adiprasetyo ketika mengantarkan peluncuran berpidato ringkas yang isinya kira-kira adalah marilah berbisnis, cari uang, bersenang-senang, muda kaya raya, tua masuk surga. Sebuah gurauan yang pas. Let’s the party begins. Free flow drinks…
Peluncuran majalah di tengah sihir internet? Di sini saya tak mengutip data manapun soal bisnis media cetak. Lebih menarik bagi saya untuk bertanya apakah Anda masih butuh majalah?

Saya katakan butuh dalam arti barangnya harus ada dalam genggaman Anda, untuk Anda baca, dan tersedia untuk Anda secara berkesinambungan. Lebih penting lagi: Anda bersedia mengeluarkan uang.
Saya pernah ditanya beberapa orang apakah bloggers Indonesia membaca koran dan majalah edisi cetak saban hari?
Pertanyaan sulit karena saya belum pernah membuat survei. Juga sebatas saya tahu belum ada data seputar itu. Lebih utama lagi: bloggers yang mana?
Jangan menganggap penanya mengada-ada. Mereka berpengandaian, para bloggers sebagai penghasil konten pastilah butuh asupan informasi, tak hanya yang online melainkan juga yang tercetak.
Tidak, tidak, jangan ge-er dulu. Mereka tak berencana membuat majalah untuk bloggers. Mereka pun tidak menganggap bloggers sebagai kumpulan orang istimewa. Apalagi jika menyangkut pengguna internet, yang di dalamnnya ada sejumlah orang yang aktif di jejaring sosial dan mikroblog, maka bloggers pada hari ini hanya sebuah irisan.

Jadi, saya kembali kepada pertanyaan apakah Anda masih membutuhkan majalah?
Kita lihat majalah gratis ada yang bertahan ada yang mati. Yang gratis pun tak menjangkau semua orang karena distribusinya memakai beberapa titik penempatan, terutama resto dan kafe, yang tentu juga tak kerap disambangi semua orang karena pasal kepentingan dan biaya.
Bagaimana dengan majalah yang dijual? Ini menyangkut niat. Jika menyangkut pembelian secara eceran, bukan pelangganan, maka untuk mendapatkannya butuh tenaga karena harus mendatangi lapak dan toko, kemudian membelinya. Dalam kasus Anda, tentu Anda sendiri yang dapat menjelaskan.
Perihal majalah bermerek lokal atau asing, bagi saya bukan isu. Persoalannya tetap konten: cocok atau tidak dengan kepentingan pembaca. Juga, cocok atau tidak bagi pengiklan.
Maka terhadap sinisme seorang kawan yang menyebut pembeli majalah gaya hidup dan fashion wanita itu tertipu, hanya membeli katalog produk, saya tak bersepakat. Bagi saya iklan juga konten yang punya fungsi informatif.
Tentang konten yang sesuai dengan harapan pembaca, formulasinya ada di ranah psikologis. Proksimitas tak semata-mata geografis. Itu sebabnya majalah untuk cewek remaja jarang memuat gosip seleb lokal. Bukan karena TV sudah menghajarnya, tetapi karena pembaca menganggap sebagian kabar tentang seleb lokal itu cemen, tak semenarik Glee, Stepahnie Pratt, dan Katty Perry. Meskipun sudah ada di internet tetap saja menarik.
Tentang proksimitas yang mempertemukan aspek geografis dan mental, sehingga bisa disebut sebagai konten lokal (termasuk dari majalah bermerek asing), justru di situ tantangannya. Bagaimanapun pembaca, yang bukan pebisnis tapi sekadar pegawai swasta, ingin tahu apa langkah ReCapital. Adapun info luar, dari pemain yang terdaftar di NYSE, hanya menarik jika punya dampak ke bisnis di Indonesia.

Tapi ketika yang dibutuhkan oleh pasar lokal sudah tersaji oleh majalah cetak, masihkah Anda mau membelinya, bahkan misalnya untuk sekadar melengkapi pengetahuan umum dan bekal obrolan?
Tentu penerbit majalah tak hanya menjual kertas tercetak yang terjilid. Konvergensi media kian menarik karena saya yakin kanal semakin kaya, dan yang namanya organisasi pemberitaan itu dalam banyak hal tak dapat disaingi oleh penerbitan personal. Organisasi memiliki standar kerja kolektif, bank data, dan akses ke sumber penting — termasuk untuk memotretnya dengan hasil bagus — untuk menghasilkan konten.
Maka bisa dimaklumi jika tempo hari Rupert Murdoch marah, menganggap agregator sebagai pencuri, karena mereka meraup konten tanpa menggaji reporter dan editor.
“Tapi,” tadi malam seorang kawan mengirim BBM, “harga majalah tambah mahal aja.” Aha! :D

Tahun ajaran ini beberapa sekolah kembali ke asal: masuk pukul 07.00 pagi. Apakah kemacetan bertambah atau berkurang? Tanyakan kepada ahlinya. Pernah sih ada evaluasi setelah dua hari pemberlakuan jam masuk pukul 06.30 itu: kemacetan berkurang 14 persen. :D
Kerepotan
Yang terjadi selama jam masuk pukul 06.30 itu adalah bertambahnya kerepotan domestik keluarga siswa. Setidaknya kegiatan di kamar mandi dan dapur menjadi lebih awal.
Selain keluarga siswa, yang repot tentu saja guru dan… penjaja makanan di sekolah. Mereka harus berangkat lebih awal. Untuk penjaja makanan — tak hanya pemilik kantin tetapi juga penggelar lapak kudapan di luar sekolah — berarti mempersiapkan banyak hal sejak awal.
Intinya: maju setengah jam belum tentu semua persiapan juga hanya maju setengah jam. Jika pada pukul 05.30 ojek cukup tersedia, maka pukul 05.00 belum tentu. Tapi hal begituan pasti sudah diperhitungkan oleh sang ahli.
Anehnya, sejauh saya cari, belum ada kabar tentang evaluasi menyeluruh terhadap pemajuan jam masuk itu. Dan pada tahun ajaran sebelumnya saya tahu ada sekolah yang tetap masuk pukul 07.00 padahal berada di kawasan korban kebijakan.
Ah sudahlah. Masalahnya bukan pada jam masuk saja kok. Lagi-lagi urusan utamanya adalah sistem jaringan transportasi kota yang bersih, aman, andal, jumlahnya memadai, melayani semua wilayah, dan murah. Bus sekolah? Bagus sih tapi belum memadai.
Maka kemarin siang, di depan sebuah sekolah di Jakarta Pusat, tiga dari empat lajur terisi mobil berhenti. Mobil-mobil penjemput (lihat foto).
Kalau dibilang parkir, para pengemudi maupun satpamwan mungkin tak terima. Cuma berhenti, bukan parkir, karena halaman sekolah mengalami kongesti.
Apapun kilahnya, parkir atau terhenti, hasilnya sama: kemacetan karena jalan hanya tersisa satu lajur.
Antre itu ngeselin
Soal kongesti ini tidak lucu dan tidak aneh tapi salah satu pangkal soal bisa ditebak. Apa? Disiplin.
Kalau ada belokan ke kanan atau putaran U, maka sebagian pengguna jalan ogah mengantre di lajur terkanan. Nyodok is the best.
Hal sama berlaku di jalan tol. Lajur terkanan bisa melambat bukan hanya karena pengemudi bebal yang santai merambat tetapi juga karena mobil-mobil yang tak mau antre di lajur terkiri menjelang pintu keluar. Setelah dekat baru berpindah jalur secara bertahap.
Konon itulah kiat smart atas nama urban survival. Nah, yang terjadi pada foto tadi ya karena kiat smart itu. Apa boleh bikin.
Selain itu, jika menyangkut antar-jemput anak sekolah maka kita juga sadar ada persoalan di embarkasi dan disembarkasi. Anak sekolah, dengan bawaan yang tak cukup seransel tipis, itu berbeda dari serdadu yang diangkut truk (bukan bus). Serdadu dilatih lompat naik dan turun kendaraan dengan bergegas.
Anak sekolah? Misalkan mereka tertib, tetap saja proses naik-turun butuh waktu. Tiga puluh detik sudah cepat, tapi tetap menimbulkan antrean.
Apalagi kalau ditambah anak-anaknya santai. Jemputan sudah datang mereka masih di kantin atau ngobrol atau nyepi sambil memainkan peranti komunikasinya. Lebih celaka lagi: jam bubaran kelas tak serentak.
Pusing dan mbulet
Memang bisa saja ada yang beragumentasi, kalau semua tertib di lajurnya maka hasilnya adalah antrean mengular. Padahal yang namanya si ular itu juga menutupi persimpangan dan akses masuk ke gedung tertentu. Hasilnya tetap saja kemacetan. Karena sama-sama menghasilkan kemacetan ya mendingan saling serobot saja.
Orang Jawa bilang ini mbulet. Tertib mengantre bikin macet, ndak ngantre juga macet. Mirip buah simalakama (Dilemma simalakamiae) yang belum diimpor, apalagi dijajakan di pasar swalayan, karena belum lolos karantina Departemen Pertanian. Pendek kata bikin masalah.
Bisa saja ada beberapa orang yang tetap berpekerti dengan alasan untuk mendidik anak, supaya anaknya sejak kecil tak terbiasa melihat orangtuanya berlalu lintas secara ngawur. Itu mulia — dalam arti layak dibahas, bahkan dipuji, tapi tak usah ditiru. Anggap saja semacam etalase yang isinya tak harus kita beli.
Itu senada dengan pendapat, “Rugi kalau kita bener tapi orang lain ngawur”; seperti anak manis dan rajin ditindas oleh anak nakal dan malas.”
Sebagian dari kaum ini punya kilah hebat, “Kalau sampeyan itu tinggal di Singapura atau Jerman ya harus. Tapi ini Indonesia, kita kudu realistis.”
Mungkin inilah yang disebut bijak sekaligus taktis: masuk kandang harimau mengaum, masuk kandang kambing mengembik, dan masuk kandang zebra cari cat buat menggarisi badan.
Betul saudara-saudara, mirip praktik korupsi: kalo yang lain nyontek, rugi amat kita yang belajar malah dapat nilai buruk.
Jangan-jangan inilah syarat memajukan bangsa melalui seleksi kecerdasan sosial. Di mana kaki berpijak, di situlah harus kita cari tangga (berikut orang lain yang bisa diperdayai untuk memegang tangga) untuk menjunjung langit.
Daripada pusing ya lupain aja
Kalau Anda pusing dengan segala karut marut bangsa yang tecermin di jalanan, maka itu wajar. Anda orang biasa.
Kalau yang pusing adalah para tuan cerdik cendekia nan bijak bestari karena terkabar masih titisan dewa, maka itu aneh.
Supaya tidak aneh, maka solusinya adalah jangan ikut pusing. Misalnya dengan melupakan segala masalah transportasi. Atau dalam ungkapan Adinoto, transportasi publik adalah sarana pengangkutan yang diupayakan sendiri oleh publik — misalnya sepeda motor.
Karena sistem transportasi hanyalah bagian dari tata wilayah, maka permukiman baru boleh tumbuh semaunya dengan iklan yang menunjukkan derajat kemakmuran bangsa: sekian menit dari jalan tol.
Bahwa negeri lain yang makmur, pun industri otomotifnya maju, malah menjual kehebatan sistem transportasi publik, ah itu belagu aja.
Mereka itu curang, karena sudah sejahtera maka bisa berpikir kayak gitu. Kira-kira begitulah cara berpikir para tuan titisan dewa tadi.
Sebaiknya kita maklumi saja, karena rasio kendaraan kota yang (katakanlah) 70 persen untuk umum (bus, kereta) dan 30 persen kendaraan pribadi hanya cocok untuk masyarakat sudah tak menganggap mobil sebagai impian.
Maka masih dalam rangka tak mau pusing, yang penting ada busway. Bahwa busnya terbatas, bahkan ada yang belum dilalui bus (sehingga halte rusak nganggur), itu sudah merupakan komitmen. Jangan riwil.
Jadi harap dimaklumi saja kalau mulai 2 Agustus busway akan disterilkan, dan nantinya jumlah motor pada jam sibuk akan dibatasi di daerah tertentu. Orang pintar lebih tahu prioritas penanganan masalah — dalam arti sangat tahu bahwa soal mendasar sebaiknya dilupakan dulu.
Saya imbau Anda jangan gusar. Pemerintah, pusat maupun daerah, selalu berniat mulia. Janganlah, misalnya, meledek “3-in-1″ sebagai hal yang hanya menghasilkan joki. Mana ada orang menumpang malah dibayar kalau bukan di Jakarta.

Batang tanaman hias yang bergetah, entah apa namanya, pada sebuah taman. Tersunat atau sekadar kulupnya tertarik? ;)
© Foto: saya
Related posts:
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.